Tampilkan postingan dengan label Bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulan. Tampilkan semua postingan

Bulan Madu Berakhir Petaka: Mempelai Pria Tewas Diserang Hiu


Baru sebulan menyandang status sebagai istri, Gemma Redmond harus menjanda. Suaminya, Ian Redmond, tewas diserang ikan hiu di sebuah resort di Seychelles, tempat mereka berbulan madu. 

Kini, guru sekolah dasar berusia 27 tahun ini masih terpukul. Ian dan Gemma berpacaran selama sembilan tahun sebelum akhirnya memutuskan menikah bulan ini. 

"Saya sangat mencintainya dan dia adalah seorang suami yang sangat khusus, seorang putra yang bijaksana, dan seorang saudara setia. Dia bekerja tanpa lelah untuk mewujudkan impiannya membentuk kehidupan rumah tangga yang indah," katanya. 

Serangan hiu datang saat pasangan ini pada minggu kedua bulan madu mereka di Pulau Praslin memutuskan menikmati keindahan pantai Anse Lazio berdua. Suaminya berenang di pantai, dan Gemma sibuk merekamnya dengan kamera video. Perairan itu relatif dangkal, dan hanya 20 meter dari pantai. Ia baru saja duduk untuk berjemur ketika mendengar teriakan minta tolong suaminya. 

Dalam waktu singkat ia telah kehilangan lengan dan menderita luka-luka mengerikan pada kaki kirinya, serta bekas gigitan pada tubuh dan pinggulnya.

Wisatawan lainnya berusaha keras untuk menyelamatkannya saat ia berbaring dalam kondisi mengalami perdarahan hebat. Namun nyawanya tak tertolong.

Beramal Jangan Cuma di Bulan Puasa


Selama Ramadan tingkat beramal masyarakat sangat tinggi. Sayangnya kecenderungan itu menurun saat 11 bulan berikutnya. "Ini yang jadi masalah," kata President Direktur, Dompet Dhuafa, Ismail Agus Said, kepada Republika.

Ia mengatakan beramal kepada sesama tidak perlu menunggu bulan suci Ramadan. Sebab beramal atau berbagi bisa dilakukan kapan pun.

Menurut Ismail kecenderungan itu tidak salah. Tapi akan lebih baik apabila aktivitas sosial tidak perlu menunggu Ramadan tiba. Dengan demikian mereka yang berhak dapat segera terbantu. "Saya pikir, lantaranan pahalanya lebih besar, maka masyarakat lebih memilih beramal saat Ramadan," imbuhnya.

Salah satu solusinya ialah Lembaga Amal dan Zakat (LAZ) agar lebih aktif lagi dalam mengajak masyarakat. Misalnya dengan selalu mengedepankan program yang sedang berjalan lalu diberitahukan kepada para donatur untuk turut menyumbang. "Para donatur kita kan masih pasif, jadi LAZ harus lebih aktif lagi menarik masyarakat untuk beramal.

Sementara itu sampai hari ke 10 Ramadan, Dompet Dhuafa telah menjalin kerjasama dengan 10 perusahan nasional untuk menyalurkan bantuan kepada mereka yang berhak. Kondisi itu serupa dengan Ramadan tahun lalu. "Selama Ramadan pasti kita sibuk, apalagi banyak perusahaan yang hendak menyalurkan bantuan," urainya.
Bantuan yang diberikan cukup bervariasi. Mereka ada yang memberi bantuan tunai dan makanan. Namun yang paling banyak diminta adalah buka bersama anak yatim piatu.

Untuk Ramadan kali ini, Dompet Dhuafa menargetkan penyaluran bantuan senilai Rp 60 miliar. Setiap bantuan yang diberikan akan disesuaikan dengan sasaran secara merata. "Tahun lalu saja bisa Rp 220 miliar. Artinya apa, masyarakat mulai giat beramal. Tapi yaitu tadi diharapkan jangan di bulan Ramadan saja

Bulan Madu Berakhir Petaka: Mempelai Pria Tewas Diserang Hiu


Baru sebulan menyandang status sebagai istri, Gemma Redmond harus menjanda. Suaminya, Ian Redmond, tewas diserang ikan hiu di sebuah resort di Seychelles, tempat mereka berbulan madu. 

Kini, guru sekolah dasar berusia 27 tahun ini masih terpukul. Ian dan Gemma berpacaran selama sembilan tahun sebelum akhirnya memutuskan menikah bulan ini. 

"Saya sangat mencintainya dan dia adalah seorang suami yang sangat khusus, seorang putra yang bijaksana, dan seorang saudara setia. Dia bekerja tanpa lelah untuk mewujudkan impiannya membentuk kehidupan rumah tangga yang indah," katanya. 

Serangan hiu datang saat pasangan ini pada minggu kedua bulan madu mereka di Pulau Praslin memutuskan menikmati keindahan pantai Anse Lazio berdua. Suaminya berenang di pantai, dan Gemma sibuk merekamnya dengan kamera video. Perairan itu relatif dangkal, dan hanya 20 meter dari pantai. Ia baru saja duduk untuk berjemur ketika mendengar teriakan minta tolong suaminya. 

Dalam waktu singkat ia telah kehilangan lengan dan menderita luka-luka mengerikan pada kaki kirinya, serta bekas gigitan pada tubuh dan pinggulnya.

Wisatawan lainnya berusaha keras untuk menyelamatkannya saat ia berbaring dalam kondisi mengalami perdarahan hebat. Namun nyawanya tak tertolong.

Dahulu Kala, Ada Dua Bulan Mengitari Bumi

type='html'>
Bulan sejak lama menjadi sumber inspirasi penyair, seniman, atau yang sedang jatuh cinta. Dan kini, beberapa astronom berspekulasi, dulu terdapat dua bulan yang mengitari bumi.
 

Ke mana perginya si bulan yang satu itu? Para astronom dari Universitas California, Santa Cruz, menyatakan dia melebur ke salah satunya lagi dalam suatu peristiwa yang dinamakan "percikan besar." Hasilnya, bulan yang ada sekarang seperti memiliki dua sisi yang berbeda, satu mulus dan satu lagi penuh tonjolan.

Teori yang dilansir di jurnal Nature pada Rabu 3 Agustus 2011 ini dikemukakan para astronom ketika menemukan ada dua sisi yang berbeda dari bulan. Satu sisi yang menghadap bumi terlihat mulus, sementara sisi yang di baliknya berbukit-bukit. Mereka lalu mereka model komputer untuk menunjukkan mengapa hal itu terjadi. Kejadiannya diduga seperti sebuah kue pie dilempar ke muka. Memercik.

Kejadian ini diduga terjadi sekitar 4,4 miliar tahun yang lalu, jauh sebelum ada kehidupan di Bumi untuk menyaksikan kejadian itu di angkasa. Bulan-bulan ini sendiri masih muda, terbentuk 100 juta tahun sebelum sebuah planet raksasa menubruk Bumi. Kedua bulan ini mengorbit Bumi dan berjalan berurutan.

Satu bulan yang besar berada di depan, berukuran tiga kali lebih lebar dan 25 kali lebih berat dari yang satu lagi. Gravitasi bulan yang besar ini diduga sangat besar sehingga yang kecil tak mampu menahannya. Keduanya semakin mendekat dan lalu terjadilah momen tabrakan itu.

"Mereka ditakdirkan bersatu. Tak ada jalan lain. Percikan besar ini seperti penyatuan dalam kecepatan rendah," kata Erik Asphaug, salah satu astronom peneliti dilansir the Associated Press.

Kecepatan rendah dimaksud Asphaug ini adalah peristiwa terjadi dalam kecepatan 5.000 mil per jam. Namun ini momen yang perlahan sekali sehingga batu-batu angkasa tidak bisa luruh.

Dan karena bulan yang lebih kecil memiliki lebar lebih dari 600 mil, tabrakan ini memakan waktu yang cukup bagi penonton di Bumi melihatnya sambil makan kacang. "Orang akan bosan melihatnya karena butuh waktu 10 menit untuk peluru untuk mencapai bulan," kata Asphaug menyamakan bulan yang kecil dengan peluru.

Batu dan material dari bulan yang kecil kemudian menyebar di permukaan bulan yang besar, bahkan tanpa menghasilkan sebuah kawah seperti yang ditimbulkan dari tubrukan meteor ke permukaan bumi. "Fisikanya benar mengejutkan sama dengan melempar sebuah pie ke wajah," katanya.

Sehari setelah itu, keadaan kembali normal. Bulan tinggal satu, namun salah satu sisinya terlihat berbeda.

Bumi sendiri memang termasuk aneh di tata surya karena hanya memiliki satu bulan. Meski Venus dan Merkurius tak memiliki satu pun, Mars punya dua bulan, Saturnur dan Jupiter memiliki lebih dari 60. Bahkan Pluto yang kecil, memiliki empat bulan.

Teori dua bulan ini jelas ramai diperbincangkan di NASA. H Jay Melosh dari Universitas Purdue menyatakan, "Kami tak menemukan yang salah dengan teori itu."

Ilmuwan Alan Stern yang dulu bekerja di NASA menyebut teori itu "Ide baru yang sangat cerdas" namun tak mudah diuji kebenarannya.

Bulan kedua bukan hanya masalah astronomi. Dia juga berperan di bidang sastra dan lagu. Penyair Todd Davis, profesor sastra di Universitas Negeri Penn menyatakan ide dua bulan — di mana salah satu menelan yang lain — akan menangkap imajinasi sastra.

"Saya mungkin bermimpi mengenai itu dan berusaha menulisnya dalam sebuah puisi," katanya.